PHP
PHP adalah bahasa server-side yang menjalankan logika banyak website, termasuk WordPress dan Laravel. Browser pengunjung tidak mengeksekusi PHP; server yang memproses skrip lalu mengirim HTML hasilnya. Pada setiap request, interpreter membaca file, mengurainya menjadi bytecode, dan menjalankan bytecode itu untuk menghasilkan keluaran. Tanpa OPcache, langkah mengurai terjadi lagi di setiap request. Waktu yang dihabiskan PHP per request ikut menentukan batas seperti Entry Processes di shared hosting.
Memilih versi PHP
Di akun hosting, versi PHP biasanya ditetapkan per domain lewat MultiPHP Manager di cPanel, bukan satu angka untuk seluruh akun. Situs utama bisa berjalan di PHP 8.3 sementara proyek lama ditahan di 8.1 sampai kompatibel. Setelah ganti versi, uji login, form, checkout, dan wp-admin, lalu baca error log kalau muncul status 500. Lewat SSH, jalankan php -v untuk melihat versi CLI; versi CLI bisa berbeda dari versi yang dipakai handler web, dan selisih ini merepotkan saat menjalankan WP-CLI.
Di mana direktif dipasang
Direktif seperti memory_limit, max_execution_time, upload_max_filesize, post_max_size, dan display_errors bisa berada di beberapa tempat. Di server milik sendiri, pakai php.ini. Di PHP-FPM atau CGI, letakkan .user.ini di folder situs, atau pakai php_value hanya di .htaccess kalau handler-nya Apache mod_php. Menulis php_value memory_limit 256M di .htaccess saat situs berjalan di PHP-FPM membuat seluruh halaman berbalas 500, karena FPM menolak direktif itu. Panel biasanya punya MultiPHP INI Editor untuk mengubah direktif per domain tanpa menyentuh file. Nilai display_errors sebaiknya dimatikan di produksi agar detail error tidak bocor ke pengunjung.
Memastikan nilai terpakai
Jangan berasumsi file mana yang dibaca. Cek nilai efektif lewat phpinfo(), atau dari CLI:
php -i | grep memory_limit
Bandingkan angka CLI dengan angka web; kalau beda, Anda sedang melihat dua konfigurasi terpisah. php -m menampilkan modul yang termuat, berguna saat perlu memastikan sebuah ekstensi aktif sebelum menyalahkan kode.
Naik versi berbeda dengan salah direktif
Ganti versi PHP dan ubah direktif punya cara gagal yang berlawanan. Versi baru bisa memicu fatal error pada kode lama, sehingga situs rusak secara mencolok dan Anda tahu harus kembali. Direktif yang dipasang di tempat salah justru gagal diam-diam: situs tetap jalan dengan nilai bawaan, dan gejalanya upload besar gagal atau skrip time-out tanpa sebab yang jelas. Karena itu, perlakukan perubahan versi sebagai kejadian yang diuji, dan perlakukan perubahan direktif sebagai perubahan yang harus dipastikan berlaku.
FAQ
Apakah memory_limit berarti storage lebih besar?
Tidak. memory_limit adalah batas RAM untuk satu proses PHP, bukan kuota disk. Nilai ini membatasi seberapa banyak memori yang boleh dipakai satu skrip, dan menaikkan angka tidak menambah ruang penyimpanan.
Bisakah saya pakai .htaccess untuk semua direktif PHP?
Hanya jika handler-nya Apache mod_php. Di PHP-FPM atau CGI, php_value di .htaccess memicu 500. Pakai .user.ini atau editor INI di panel.
Situs rusak setelah ganti versi PHP, apa yang pertama dilakukan?
Kembalikan ke versi sebelumnya yang stabil, lalu cari plugin atau tema yang error sebelum mencoba naik lagi. Jangan memaksa versi baru saat situs belum bisa dibuka.
Versi PHP yang usang adalah utang keamanan. WordPress Hosting yang baik memaksa upgrade. Di cPanel, pilih versi per folder. Tes situs di staging sebelum menaikkan major version.
Disclaimer: Artikel WikiHosting disusun untuk tujuan edukasi dan referensi. Teknologi hosting terus berkembang, sehingga beberapa informasi teknis mungkin berubah seiring waktu.
