Loncat ke konten utama

Serverless

Diperbarui: 29 Oktober 2026
By Willya Randika

Serverless adalah model menjalankan kode tanpa mengelola server secara langsung. Anda mengunggah fungsi, lalu penyedia menjalankan fungsi itu saat ada event seperti request HTTP, upload file, atau pesan antrean. Anda tidak memilih atau menambal VM.

Cara kerjanya

Setiap fungsi berjalan di lingkungan yang dibuat saat dibutuhkan. Kalau tidak ada instance aktif, penyedia melakukan cold start, yaitu menyiapkan runtime sebelum kode dieksekusi. Setelah itu fungsi melayani request sampai tidak ada trafik, lalu instance bisa dimatikan.

Fungsi punya batas waktu, memori, dan ukuran paket. Penyedia juga membatasi concurrency. Kalau batas itu tercapai, request bisa antre atau ditolak.

Kapan cocok

Serverless cocok untuk beban yang tidak stabil, webhook, cron job, pemrosesan gambar, dan API kecil. Anda membayar per pemakaian, sehingga beban yang sering nol bisa lebih murah daripada VPS yang menyala terus.

Serverless kurang cocok untuk aplikasi dengan koneksi database persisten, proses panjang, atau kebutuhan kontrol kernel. Untuk aplikasi monolit dengan trafik stabil, VPS sering lebih sederhana dan lebih mudah diprediksi biayanya.

Batas yang perlu diuji

Fungsi serverless sering membuka koneksi database baru setiap invocation. Tanpa pooler, database bisa kehabisan koneksi saat trafik naik. Gunakan pooler, batasi concurrency, atau pilih database yang mendukung HTTP API. Lihat Connection Pooling.

Cold start bisa menambah latency, terutama untuk runtime berat atau paket besar. Ukur dari region yang sama dengan pengguna. Untuk fungsi yang jarang dipanggil, cold start mungkin lebih terasa daripada fungsi yang selalu aktif.

Biaya per request terlihat kecil, tetapi bisa membesar pada volume tinggi. Egress, penyimpanan, dan layanan tambahan juga perlu dihitung. Vendor lock-in sering muncul pada event trigger dan layanan managed yang spesifik.

Konteks

Serverless sering dibandingkan dengan Docker, Cloud Hosting, dan VPS. Untuk pemulihan dan rollback, lihat Snapshot VPS. Uji beban nyata sebelum memilih model.

Rancang fungsi dengan timeout dan retry yang jelas. Operasi yang dipanggil ulang harus idempotent agar tidak membuat data ganda. Gunakan logging dan tracing untuk melacak request lintas fungsi. Tanpa observability, debugging masalah produksi di serverless bisa lebih sulit daripada di VPS.

Pantau biaya per fungsi dan tag resource agar anggaran tidak bocor. Batasi retry agar kegagalan tidak menggandakan biaya. Untuk fungsi yang sering dipanggil, pertimbangkan provisioned concurrency jika cold start mengganggu pengguna.

FAQ

Apakah serverless berarti tanpa server?

Bukan. Server tetap ada, tetapi provider yang mengelolanya. Anda hanya tidak mengakses atau menambal server itu.

Apa itu cold start?

Waktu tambahan saat provider menyiapkan runtime sebelum fungsi pertama dijalankan. Fungsi yang jarang dipanggil lebih sering mengalami cold start.

Apakah serverless lebih murah?

Tergantung pola trafik. Untuk beban sporadis, sering lebih murah. Untuk beban stabil dan tinggi, VPS atau container bisa lebih ekonomis.

Disclaimer: Artikel WikiHosting disusun untuk tujuan edukasi dan referensi. Teknologi hosting terus berkembang, sehingga beberapa informasi teknis mungkin berubah seiring waktu.